Menonton Amerika

Sekarang ini operator telepon seluler berlomba menawarkan paket data dengan harga yang terjangkau dan bonus yang tak tanggung-tanggung. Bagi seorang yang insomnia seperti saya, bonus packet data di tengah malam sampai pagi hari adalah semacam candu yang selalu menggoda untuk terjaga. 

Bonus yang bergiga-giga itu tentu saja sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan, ketika orang terlelap dengan pulasnya saya tenggelam dalam kekhusuyukan mengunduh video YouTube dengan tanpa rasa bersalah dan cemas seperti ketika browsing di tengah hari. Maklum, sudah kadung berjanji kepada diri sendiri untuk tidak kalap dan hati-hati memakai pulsa data.

Dan petualangan di dunia maya pun dimulai dengan mengunduh video talkshow di beberapa stasiun televisi dari amerika sana. Ellen show, late night with Jimmy Fallon, Talkshownya conan, stephen Colbert, David Letterman, dan sejenisnya.

Saya temukan tidak hanya humor tapi juga bagaimana cara berpikir orang amerika secara umum. Kemajemukan amerika dan pop culture yang ada disana. Pada titik tertentu kadang saya dibuat geregetan ketika mendengar orang yang sangat liberal dan terlalu mengandalkan logika manusianya, seperti ketika menonton talkshownya Bill Maher. Tapi disini lah kelebihan orang amerika. Mereka terbuka untuk setiap ide atau pemikiran yang datang kepada mereka. Namun apabila hal itu dipandang bertentangan dengan apa yang  dianggap benar, mereka mau duduk dan bahkan berdebat mengenainya. 

Politik satire lebih vulgar disana. Dilihat dari bagaimana seorang host bisa mengucap dirty words, kata-kata makian terhadap tokoh politik manapun yang dia suka. Bahkan, dalam berita sekalipun seorang newsanchor berucap ‘b*lls**t’ ketika sedang membacakan berita. Mungkin itu disebabkan tensi politik disana yang menghangat menuju pilpres November depan. Coba kalau disini, para host itu pasti akan bermasalah dengan pasal pencemaran nama baik atau hate speech. 

Jadi itulah sedikit yang saya pelajari dari menonton talkshow acara tv amerika. Satu hal lagi yang saya peroleh adalah bagaimana menonton talkshow-talkshow tersebut mengasah kemampuan listening saya. Tapi disitulah kadang saya merasa sedih, sampai kapan insomnia ini berakhir? Mengingat saya seperti sudah menemukan excuse atau pembenaran untuk terjaga di malam hari menikmati streaming YouTube tak henti-henti. Haahh…yang saya butuhkan sebenarnya hanya another way of escape, mood booster yang membuat lupa sejenak kepenatan hidup…

Btm, 17 Agustus 2016


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s