Nama Panggilan

Suatu pagi ketika aku sedang mandi di kamar mandi tiba-tiba terdengar suara imut yang lucu “umiii….., umiiiiii,…….” Si Azzam memanggilku. Segera aku selesaikan mandiku dan menghampiri Azzam. Siklus tidurnya memang berubah-berubah. Kadang-kadang dia bisa bangun cepat tetapi sering dia bangun siang sekitar jam 7 pagi. Segera kubuat susu untuk dia dan menyiapkan makanan. Setiap pagi aku biasakan dia makan, mandi setelah itu baru kuijinkan main dengan temannya. Sebulan ini aku punya banyak hari libur karena menunggu surat keputusan dari BKD. Ya Alhamdulillah akhirnya aku diterima menjadi cpns setelah beberapa tahun berjuang sebagai karyawan swasta. Aku berharap semoga ini adalah langkah maju untuk menggapai mimpiku sejak kuliah dulu.

Mendengar suara Azzam yang terbangun dari tidur dengan wajah kusut memanggilku dengan sebutan “umi”, tiba-tiba aku terhenyak. Beberapa tahun yang lalu ketika aku masih bekerja di Yogyakarta, ada seorang anak yang datang ke kantor (putra seorang teman kerja yang senior). Dia mengatakan kepada ibunya “Umi tunggu dibawah ya…” Kemudian karena begitu terpesonanya aku dengan perkataan sang anak kepada ibunya sehingga aku menggumam “Pengen dipanggil umi seperti ibu itu…”. Lalu aku menyadari bahwa hal itu terwujud sekarang ketika Azzam sudah lahir dan dia sudah pandai berbicara. “Umi….. mi…..” begitu imutnya dia ketika memanggilku.

Di kota tempat tinggalku sekarang memang jarang yang mengajarkan nama panggilan umi dan abi untuk anaknya. Yang umum digunakan adalah mama dan papa. Sedangkan panggilan ‘ibu’ sendiri mirip dengan ‘tante’ atau digunakan untuk orang yang akan mengasuh anak selain ibu kandungnya. Ketika aku berbincang dengan seorang guru di paud tempat Azzam biasa aku titipkan, dia memanggilku dengan sebutan ‘mama azam’. Ibu itu bertanya “Kalau mama Azzam dulu sekolah dimana?” tanyanya. Aku pun sesaat tertegun lagi. Karena tidak tahu nama asliku, orang-orang di sekitar memanggilku dengan mama Azzam. Jadi teringat dengan panggilan sahabat-sahabat nabi terdahulu yang menggunakan Abu atau Ummu. Abu Huraira, Ummu Salamah, dan lain-lain.

Teringat akan keluarga yang mungkin belum dikaruniai anak. Pasti sudah sangat merindukan kehadiran buah hati yang akan menjadi penerus keturunan dan penyejuk di mata. Aku hanya bisa menyarankan agar selalu khusnudzon kepadaNya bahwa tidak ada hal yang mustahil dalam kehidupan ini. Semuanya mungkin, everything is possible. Sudah ada contoh yang termaktub dalam alqur’an yaitu kisah nabi Zakariyya. Terus berusaha, berdo’a dan tentu diiringi dengan sedekah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s