Aspirasi

Fiuuhhh setelah sekian lama hibernasi, akhirnya nulis lagi. Sebenarnya setiap ada sesuatu yang ada di pikiran, aku selalu teringat untuk menuliskanya. Tapi, yah karena hambatan teknis, jadi belum sempat menuliskanya satu per satu. Karena tulisan kali ini tidak terlalu serius (tapi tetap penting), jadi bahasanya kubuat agak santai aja ya para blogger semua.

Sore ini ketika aku mampir ke sebuah toko untuk membuat meja kecil lipat, aku tertegun melihat sesosok ibu dan anaknya yang berjalan berlawanan arah denganku. Ibu ini hamil. Dia memanggil anaknya yang kira kira berusia dua tahunan untuk segera cepat berjalan menyusulnya. Memang hidup di Batam harus selalu hati-hati untuk menjaga anak-anak. Banyak isu human trafficking disini. Beberapa bulan lalu aku mendengar seorang ibu bercerita tentang seorang anak yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumahnya. Belum jelas kemana perginya si anak tapi setelah dicari ke semua tempat yang mungkin disinggahi, hasilnya nihil.

Ibu itu berjalan gontai dan agak lemah. Kira-kira umur kehamilannya sekitar 6 atau 7 bulan melihat  ukuran perutnya yang sudah agak membesar. Tapi yang membuatku semakin tertegun adalah ibu ini membawa karung yang disarungkan di bahunya dan besi pengait di tangan kananya. Ya, ibu ini pemulung yang sedang hamil dan membawa anak dua tahunnya berkeliling pasar mencari barang bekas. Dalam hati aku menangis, ya Alloh kemana suaminya? Sedang hamil tua, menjaga anak, dan memulung? Hatiku berontak, kupanggil anak gadis kecil itu, kuberi dia uang sekadarnya.

Kemarin malam, baru saja aku teringat. Pulang dari kerja jam 10 malam, aku berhenti di lampu merah. Kali ini ada ibu dengan gadis kecil nya yang tidur di gendongan. Ibu ini membawa koran berita khas kota dan menawarkannya kepada setiap pengendara. Saat itu sudah jam 10 malam lebih dan ibu ini masih berada di luar rumah untuk mencari sesuap nasi dengan membawa anak gadis kecilnya yang terlelap di gendongan.

Beberapa bulan lalu, kembali di lampu merah kota ini, aku melihat seorang ibu duduk di lampu merah. Kakinya di selonjorkan dan tangan kanannya lagi-lagi menggendong anaknya yang kurus. Tangan kirinya ia julurkan ke pengendara yang berhenti tak terkecuali aku. Waktu menunggu di lampu merah itu agak lama sekitar 2 – 3 menit. Jarakku yang tidak terlalu jauh membuatku mau tidak mau melihat si ibu dan anaknya. Hatiku terenyuh dan secara tidak sadar aku hampiri ibu itu. Bertanya kenapa dia sampai disini. Ternyata si ibu ini datang dari kampung untuk mencari suaminya yang tidak pulang setelah beberapa tahun. Kulihat kakinya, “Kaki ibu kenapa?” “Kena diabetes mbak”, katanya. 

Si ibu melanjutkan ceritanya bahwa di sini dia tinggal di rumah seseorang yang berbaik hati menampungnya. Dia mengemis karena tak punya piliha lain. Ingin bekerja, anaknya tidak ada yang menjaga. Dan itu dipersulit dengan kondisinya yang sakit. Terlepas apakah si ibu dipekerjakan untuk mengemis atau tidak, yang membuatku menangis saat itu adalah anaknya yang ia gendong. Ya Alloh seharusnya anak ini bermain, menikmati masa kanak-kanaknya. Tapi dia harus bergelut dengan debu asap kendaraan bermotor dan cuaca disini yang panas. Apakah hari itu dia sudah makan? 

Aku meminta kepada si ibu, “Bu, kasihan anak ibu jangan diajak kesini. Bawa pulang aja bu, kasian anak ibu”. Aku mengatakannya sambil melihat anaknya yang kurus, hitam, dan rambutnya yang memerah. Mataku merah berkaca-kaca menahan tangis. . Membayangkan apa yang dialami oleh ibu ini… Setelah itu aku memberinya sekadarnya dan berlalu. Tapi tangisku akhirnya pecah juga…

Tentu yang kurasakan adalah terenyuh yang amat sangat ketika teringat anakku azzam. Betapa aku seharusnya bersyukur selama ini. Dibanding perjuangan ibu-ibu itu, mungkin aku ini belum apa-apanya. Tapi ada sedikit perasaan marah juga. Kemana seharusnya orang yang peduli terhadap nasib ibu-ibu ini? Pemerintah dengan dinas-dinasnya kemana? Apakah mereka tidak melihat, atau sengaja abai? Pemukiman kumuh di pinggiran jalan utama itu juga. 

Jalan-jalan ini adalah jalan arteri di kota. Tidak mungkin pejabat pejabat itu tidak pernah melihat orang-orang seperti ini. Kenapa tidak segera bertindak? Setiap kali menemui hal hal seperti ini di sekitarku, aku selalu berujung pada pertanyaan tak berjawab. Semoga tulisan ini dibaca oleh para pejabat itu. Dan keadaan segera membaik…

Batam, 5 September 2014

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s