RESENSI BUKU APRESIASI SASTRA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Judul                           : Pendidikan Karakter Berbasis Sastra, Solusi Pendidikan Moral yang                                             Efektif

Pengarang                   : Rohinah. M. Noor

Penerbit                       : Ar-Ruzz Media

Tahun terbit, cetakan  : 2011, Cetakan I

Tebal buku                  : 175 halaman

Harga                          : Rp. 25.500

 

 

  1. PENDAHULUAN

            Penulis kelahiran Cirebon 20 April 1980 ini mempunyai latar belakang pendidikan yang kental dengan nilai-nilai agama. Setelah mengikuti pendidikan di Ponpes Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum, Jombang, Rohinah M. Noor melanjutkan studinya di UIN Sunan Kalijaga sekaligus nyantri di PP Wahid Hasyim. Sedangkan studi S2 nya diambil di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia pernah aktif di berbagai organisasi kepemudaan serta menulis di berbagai media baik lokal maupun nasional. Selain itu penulis juga telah menulis beberapa buku lain yang bertema pendidikan. Berbeda dengan buku tentang pendidikan karakter pada umumnya, buku ini membahas mengenai pendidikan karakter melalui pembelajaran apresiasi sastra sebagai mediumnya. Sehingga bahasan buku ini tidak hanya pada tataran konsep pendidikan karakter melainkan sampai kepada fakta praktis dan empirisnya.

            Karena penulis mempunyai perhatian terhadap pendidikan karakter khususnya pada masa anak-anak, buku ini banyak membahas penggunaan sastra dalam mendidik anak-anak. Walaupun tidak sedikit pula yang memaparkan tentang kritik pendidikan karakter di sekolah-sekolah menengah. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa bahasan buku ini berpijak pada sastra sebagai elemen tak terpisahkan yang ada di kehidupan sosial kemasyarakatan. Kemudian dalam sastra inilah pendidikan karakter di ‘bumi’ kan. Pembaca akan mendapatkan pengetahuan baru bagaimana pendidikan karakter dipraktekan dengan memanfaatkan karya-karya sastra. Pembelajaran sastra yang ada sekarang pun dikritisi oleh penulis dengan membandingkannya dengan pembelajaran sastra di beberapa negara sehingga pembaca mendapat gambaran menyeluruh tentang pendidikan karakter yang berbasis sastra.

  1. ISI                                                                                                                                      

            Arus modernisasi tak pelak lagi mengakibatkan banyak perubahan dalam masyarakat. Perubahan ini menyimpan potensi negatif yaitu tereduksinya nilai-nilai yang ada di masyarakat berupa kemerosotan moral dan akhlak. Hal ini sebagai akibat tidak adanya kesiapan dan filtrasi terhadap nilai-nilai kebudayaan baru yang dibawa arus modernisasi tersebut. Tampaknya reduksi nilai-nilai yang ada di masyarakat sekarang ini sudah mulai menggejala. Masih hangat di ingatan kita kasus Gayus Tambunan yang menelanjangi tatanan birokrasi dan penegakan hukum yang ada selama ini. Atau kisah para wakil rakyat yang ingin membangun kembali gedung perwakilannya dengan megah yang menciderai rasa keadilan masyarakat. Belum lagi kasus korupsi yang melingkupi banyak instansi pemerintah, permainan proyek, budaya anarkis, penyalahgunaan wewenang, tipu menipu, kriminaliltas, dan lain-lain.

            Lalu muncul pertanyaan di benak kita apakah sistem pendidikan yang ada selama ini gagal dalam membentuk kepribadian anak-anak bangsa? Jika kita menilik pada hasil penelitian Taufik Ismail, penyair senior Indonesia pada tahun 1997 – 2005, tampaknya minimnya pembelajaran apresiasi sastra adalah salah satu penyebab mengapa kemerosotan moral yang terjadi. Taufik Ismail memaparkan ‘TRAGEDI NOL BUKU’ bahwa siswa-siswi di Indonesia berhasil menyelesaikan ‘NOL’ karya sastra sampai mereka menginjak SMA. Hal ini begitu memilukan jika dibandingkan dengan budaya literasi yang berkembang di negara-negara maju, bahkan di Malasya sekalipun. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa pendidikan karakter (pendidikan yang berorientasi pada jiwa, pada penanaman kebenaran universal sebagai pemenuhan fitrah manusia) yang berbasis sastra menjadi sebuah keniscayaan. 

            Sastra memang tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu medium yang efektif dalam pendidikan karakter. Mengapa? Karena sastra mengasah rasa, mengolah budi, membukakan pikiran dan mengajak manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Namun, tidak semua hasil karya sastra dapat digunakan sebagai sarana membangun karakter. Sastra yang dapat digunakan adalah sastra yang ‘baik’. Menurut YB Mangunwijaya, sastra yang baik adalah yang mampu membuat pembacanya melakukan suatu perenungan, mendapatkan pencerahan, dan mengajak kepada kehidupan yang lebih baik dan benar.

            Penanaman dan pembentukan karakter berbasis sastra dapat dilakukan di dua lembaga yaitu keluarga dan sekolah sebagai bagian dari lingkungan sosial. Di lingkungan keluarga peletak batu pertama pembentuk watak dan kepribadian seseorang adalah para orang tua. Oleh karena itu, harus disadari bahwa masa anak-anak adalah masa krusial dimana setiap orang tua harus menanamkan nilai-nilai karakter yang baik kepada anaknya. Sehingga, saat dewasa nanti anak-anak sudah memiliki karakter yang mantap, kuat dan siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Disamping teladan yang baik, orang tua bisa memanfaatkan karya sastra dalam upaya menanamkan karakter yang baik pada anak.

            Upaya tersebut salah satunya dengan kegiatan mendongeng. Tiga peneliti dari Jerman (H.G. Wahn, W.Hesse, dan U.Schaefer dalam Suddeutsche Zeitung, 24 Juni 1980) mengungkapkan bahwa anak yang sering didongengi tumbuh menjadi anak yang lebih pandai, lebih tenang, lebih terbuka, dan lebih seimbang dibandingkan dengan anak yang tidak didongengi. Para pakar telah merumuskan manfaat yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

  1. Mengasah daya pikir dan imajinasi anak

Berbeda dengan media televisi yang visual, dongeng akan menumbuhkan daya imajinasi anak. Karena ketika didongengi anak akan membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan.

  1. Merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika pada anak

Dongeng mengandung nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawan, kerja keras, dan nilai positif lain yang terselip dalam setiap cerita. Anak-anak mudah menyerap nilai-nilai tersebut karena disajikan dalam bentuk cerita. Dan ini akan tertanam dalam alam bawah sadar mereka sampai mereka dewasa.

  1. Langkah awal untuk menumbuhkan minat baca pada anak

Dari dongeng yang dibacakan inilah anak akan memulai ketertarikan dengan buku. Diawali dengan buku dongeng-dongeng atau cerita yang kemudian akan berlanjut ke buku-buku lain seperti sains, pengetahuan umum, dan lain-lain.

  1. Sarana mendekatkan anak dengan orang tua

Tanya jawab, interaksi antara orang tua dan anak pada saat mendongeng merupakan sarana untuk mempererat tali kasih sayang. Selain itu, tertawa bersama, duduk bersama, akan mendekatkan emosional antara keduanya.

            Dari pemaparan diatas nampak jelas peran karya sastra dalam hal ini dongeng dalam penanaman karakter pada anak. Lalu bagaimana dengan remaja dan siswa sekolah? Pendidikan karakter melalui pembelajaran apresiasi sastra nampaknya belum banyak diterapkan institusi pendidikan kita. Pembelajaran apresiasi sastra sebagai bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia agaknya tidak banyak mendapat perhatian. Ada beberapa kritik terhadap pembelajaran apresiasi sastra disekolah.

  1. Peran guru yang belum maksimal

            Pembelajaran sastra di sekolah sekarang ini kurang diminati oleh para guru. Karena beban kurikulum dan Ujian Nasional, mereka lebih sering menitikberatkan pada materi yang ada pada setiap ujian. Jikapun ada pembelajaran sastra, porsinya sedikit dan seringkali menjadi kegiatan yang kurang menarik dan terbatas pada sekat-sekat ruangan kelas. Dapat disimpulkan bahwa guru khususnya guru Bahasa Indonesia hendaknya orang yang ‘melek’ karya sastra serta dibekali dengan keterampilan, kemampuan dalam mencipta karya sastra atau setidaknya mengapresiasi karya sastra. Ini dimaksudkan agar guru dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan kreatif yang akan menumbuhkan minat dan potensi anak didik terhadap sastra. Sehingga tujuan akhirpun dapat tercapai yaitu menanamkan nilai karakter pada anak didik.

  1. Minimnya (pemanfaatan) buku sastra di sekolah

            Ada dua kemungkinan yang terjadi atas buku sastra di sekolah yaitu minimnya jumlah buku yang ada di perpustakaan sekolah atau minimnya penggunaan buku-buku tersebut. Ketika minim buku sastra tentunya guru dan pihak sekolah secara aktif dapat mengajukan permintaan kepada pemerintah. Dalam hal ini pemerintah telah mempunyai program yaitu proyek pengadaan buku bacaan. Namun akan tidak bermanfaat ketika di perpustakaan sekolah telah banyak buku sastra tetapi semuanya menjadi pajangan saja. Jadi tidak hanya berhenti pada pengadaan saja, pemanfaatan buku tersebut pun perlu digalakkan.

            Penelitian Taufik Ismail dalam ‘TRAGEDI NOL BUKU’ menunjukkan betapa minimnya pengenalan sastra kepada siswa-siswi di Indonesia. Terungkap bahwa pasca era Algemeene Middlebare School (sekolah lanjutan tingkat atas pada masa Belanda) pelajar SMA Indonesia hanya membaca 0 – 2 judul buku sastra saja. Padahal pada era AMS tersebut pelajar diwajbkan membaca 15 – 25 judul buku sastra. Jika kita bandingkan dengan negara lain, Indonesia jauh ketinggalan. Malasya mewajibkan 6 judul, Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika Serikat 32 judul karya sastra.

            Sejarah menuturkan bahwa negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, Perancis, Amerika Serikat menjadikan sastra sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pengembangan kepribadian dan pembangunan bangsa. Dikala sistem pendidikan kontemporer tidak berhasil membekali generasi penerus dengan nilai-nilai luhur pembentuk watak bangsa, sastra sepatutnya dilihat sebagai jalan alternatif.

            Pembahasan tentang praktek dan penerapan pendidikan karakter berbasis sastra dikupas dalam buku setebal 175 halaman ini. Bab pertama memberi pijakan kepada pembaca tentang apa itu sastra, peran dan hubunganya sebagai kontrol sosial, bahkan peran sastra sebagai jalan menuju revolusi sosial. Bab kedua membahas tentang fungsi sastra dalam membentuk kepribadian, dilanjutkan dengan pembinaan karakter pada anak usia dini berbasis sastra anak di bab ketiga. Di bab ini dibahas pula tentang apa itu sastra anak dan tahapan perkembangan minat sastra pada anak. Bab keempat membahas tentang kritik pendidikan sastra di sekolah, dan metode-metode pembelajaran sastra yang ditawarkan sebagai solusi. Pembandingan pendidikan sastra dengan negara lain dibahas di bab lima, dan terakhir diselipkan lampiran mengenai perkembangan sastra Indonesia dan sastra Arab.

            Buku ini membahas secara menyeluruh mengenai ruang lingkup sastra dikaitkan dengan perannya sebagai media dalam pendidikan karakter. Namun, pembahasan mengenai pendidikan karakter, pentingya moral itu sendiri sedikit kurang jika dibandingkan dengan pembahasan mengenai sastra. Disamping itu karena buku ini merupakan cetakan yang pertama terdapat beberapa kalimat yang tidak lengkap. Begitu pula dengan paragraf yang isinya tidak sesuai dengan judul sub babnya.

            Terlepas dari hal teknis diatas, buku ini merupakan rujukan awal pendidikan karakter berbasis sastra bagi orang awam, para orang tua pada umumnya dan orang yang berkecimpung dalam pendidikan karakter atau pengajaran sastra pada khususnya. Bahwa pendidikan karakter yang esensial bisa dilakukan dengan medium sastra. Dan hal ini akan menjadi terobosan ditengah gejala merosotnya moral di masyarakat. Selamat membaca!

 By : Kurnia Nur Ainy, S. PdImage

2 thoughts on “RESENSI BUKU APRESIASI SASTRA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s