kultum masjid dekat rumah

Ahad, 15 Januari 2012 18.34
“Kita tidak bisa menghargai uang seribu rupiah, kalau belum pernah merasakan tak punya uang sepeserpun,

Kita tidak bisa menghargai rumah tinggal 6x4m, kalau belum pernah merasakan tidak punya rumah untuk berteduh,

Dan kita mungkin jarang mensyukuri iman, karena belum pernah merasakan rasanya tidak punya pegangan yang kokoh, iman dan islam”

Begitu kutipan kultum yang kudengar dari masjid dekat rumah.
Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ketika kita kekurangan materi, ada keinginan yang belum tercapai, hati yang tersakiti, diri yang diremehkan, kegagalan, kekecewaan, sakit, atau apapun itu,

Semua itu adalah cara Allah agar kita lebih bisa menghargai karuniaNya ketika sedang berlebih, ketika berhasil, disanjung orang, berkecukupan, sehat, dihormati, dan lain sebagainya.

Berarti bukannya musibah atau kegagalan itu melemahkan, tapi justru akan menguatkan kita, menyiapkan kita, untuk keberhasilan yang mungkin lebih besar.
Jadi dengan demikian kita akan dilatih untuk menghargai apa yang ada, bukan memikirkan apa yang belum ada.

Sang ustadz melanjutkan.
Kegalauan, kegersangan, keresahan, kecemasan, kekhawatiran, ketidakpastian, dan penyakit serupa lainnya. Semua itu adalah akibat dari tidak ditunaikannya hak-hak Allah. Gelisah akan rezeki yang tidak pasti, akan reda dengan sedekah. Khawatir akan waktu sementara banyak yang harus dikerjakan, sembuh dengan salat tepat waktu yang mengajarkan kita untuk tidak menunda pekerjaan.
Galau karena target yang belum tercapai, terobati dengan menguatkan tawakkal dengan memperbanyak ibadah padanya.

Begitu yang dapat kusimpulkan dari penjelasan singkat yang kudengar dari seorang ustadz. Menunaikan hak-hak Allah terlebih dahulu akan menyadarkan kita untuk tidak bersandar pada kekuatan, kesempurnaan ikhtiar semata. Akan tetapi, mengakui bahwa campur tanganNya adalah hal yang mutlak dalam setiap urusan-urusan kita. Jadi mengapa tidak menyerahkan semuanya pada dzat yang Maha Mengetahui, Kuasa serta tempat kembali segala urusan?
Toh Dia juga yang akhirnya memutuskan lancar/sulitnya, mudah/susahnya segala hal di didalam kehidupan ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s