UN: Sebuah Kesempatan, Bukan Beban

Sejak beberapa tahun yang lalu Ujian Nasional memang menjadi perdebatan. Terlebih dengan sistem yang baru dimana standar kelulusan ditetapkan secara nasional. Dikaitkan dengan sumber daya yang berbeda dalam setiap sekolah di seluruh Indonesia, Ujian Nasional menjadi semacam beban bagi sekolah, pengajar, dan peserta didiknya. Standar yang dipakai secara nasional inilah yang kemudian menyebabkan banyak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan UN. Dari mulai kebocoran soal, kecurangan ketika pelaksanaan UN, bahkan rekayasa nilai. Hal ini tentu saja akan berdampak buruk bagi dunia pendidikan manakala sekolah, pengajar, dan peserta didik melakukan segala cara hanya untuk memastikan agar semua siswa lulus dan mengangkat nilai dan citra sekolah di mata masyarakat.
Evaluasi Pengajaran
Sebenarnya perlukah Ujian Nasional dilaksanakan? Untuk memahami dasar pelaksanaan Ujian Nasional kita perlu mengacu kepada komponen dalam proses pengajaran. Secara umum, proses pengajaran terbagi menjadi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian (evaluasi). Tes atau ujian dalam bentuk apapun tak dapat dipungkiri merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pengajaran meskipun bukan satu-satunya instrumen dalam evaluasi. Akan tetapi, hasil tes atau ujian akan memberikan input atau masukan yang berguna bagi semua pihak antara lain guru/pengajar, sekolah, instansi terkait bahkan untuk siswa itu sendiri. Ini disebabkan hasil tes memberikan gambaran sejauh mana ‘ketersampaian’ sejumlah pengetahuan yang diberikan oleh guru dan sejauh mana ‘keberterimaan’ materi tersebut dalam diri peserta didik. Dengan kata lain tes atau ujian ini bermanfaat untuk memberikan feedback kepada pengajar untuk proses pengajaran selanjutnya. Kemudian kepada peserta didik sebagai cara untuk mengukur kemampuan dirinya. Dan secara tidak langsung berdampak kepada sekolah maupun instansi terkait tentang evaluasi potensi ataupun kekurangan yang dialami secara riil oleh sekolah. Lebih luasnya lagi hasil Ujian Nasional merupakan salah satu barometer untuk menilai kualitas pengajaran suatu sekolah.
Mengubah sudut pandang
Mengingat fungsi evaluasi yang bisa diambil dari ujian atau tes tersebut maka yang harus dilakukan adalah mengubah sudut pandang dari semua pihak. Yang semula menganggap bahwa UN adalah sebuah threat (ancaman) menjadi sebuah tantangan (challenge) atau bahkan kesempatan (oppurtunity). Hal ini dimungkinkan ketika seluruh warga dalam sebuah sekolah memiliki kesadaran akan peran penting evaluasi pengajaran untuk selanjutnya memaksimalkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Untuk mengubah sudut pandang tersebut tentunya diperlukan langkah-langkah yang diambil secara sinergis oleh para pelaksana pengajaran yang melibatkan seluruh komponen dalam sekolah.
a. Penyadaran sejak awal pendidikan
Kebanyakan guru dan siswa disekolah umumnya berusaha ekstra keras ketika tahun terakhir menjelang UN dilaksanakan. Banyak uji coba dan tes yang dilakukan untuk ‘menyambut’ UN ini. Menurut pengamatan dan pengalaman penulis, terkadang siswa (dan bahkan guru) menjadi stres dengan banyaknya ujian dan persiapan ini karena menganggap bahwa persiapan yang dimiliki belum cukup matang sementara ada standar kelulusan yang harus segera dicapai. Oleh karena itu, sejak di awal tahun pertama harus ada sosialisasi kepada siswa akan adanya proses evaluasi menyeluruh yang akan dilakukan pada tahun terakhir sehingga sejak awal sudah terprogram dalam diri siswa bahwa apa yang dilakukan pada tahun-tahun awal akan berdampak terhadap kesiapan menghadapi evaluasi (dalam hal ini UN) di tahun terakhir.

b. Motivasi untuk memaksimalkan potensi
Seiring dengan sosialisasi pada awal pendidikan, guru/pengajar sebagai ujung tombak proses pengajaran perlu menumbuhkan motivasi dan semangat peserta didik. Tidak hanya berfokus pada materi yang harus segera tersampaikan saja, akan tetapi guru/pengajar hendaknya sesekali menyelipkan semacam ‘motivation training’ misalnya dengan memberikan contoh kisah hidup orang-orang sukses atau kisah pengalaman hidup yang pernah dialami. Sehingga siswa akan merasa terpacu dengan sendirinya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dalam keseluruhan proses pengajaran. Hal ini akan berdampak baik khususnya bagi diri siswa dan pada pelaksanaan evaluasi (UN) serta peningkatan kualitas sekolah pada umumnya.

c. Manajemen keberhasilan dan manajemen kegagalan
Menghadapi UN tentu saja diperlukan persiapan mental yang baik. Disinilah agaknya perlu ditanamkan juga apa yang disebut dengan ‘manajemen keberhasilan’ dan ‘manajemen kegagalan’. Hal ini disebabkan ada kasus-kasus di masyarakat yang terjadi ketika misalnya seorang siswa bunuh diri karena gagal UN atau siswa yang berpesta dengan naik motor ugal-ugalan ketika mendapati bahwa dirinya telah lulus UN. Untuk itu, sebelum UN hendaknya ada pengarahan (bukan hanya kepada siswa tetapi juga kepada guru dan pengajar) untuk memaknai keberhasilan dan kegagalan.
Yaitu menyikapi keberhasilan dengan mensyukurinya dan memberikan manfaat yang lebih atas keberhasilan yang telah dicapai. Dan dengan menganggap bahwa kegagalan dalam hal ini khususnya UN, adalah kesuksesan yang tertunda dan disikapi proaktif dengan mengambilnya sebagai pelajaran tanpa mencari kambing hitam dan untuk melakukan persiapan lebih matang lagi di masa depan.
Dengan menerapkan beberapa poin diatas diharapkan UN bukan lagi menjadi sebuah beban tetapi menjadi sebuah kesempatan untuk memaksimalkan potensi-potensi yang ada dalam institusi pendidikan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s