Error dan Mistake dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Senin, 31 Januari 2011

Error dan Mistake dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Di dalam proses belajar mengajar adalah sangat wajar jika siswa/murid melakukan kesalahan. Kita tidak bisa mengharapkan siswa belajar sesuatu dengan pemahaman yang sempurna untuk pertama kalinya. Kesalahan siswa adalah bagian dari proses belajar yang harus disikapi dengan bijaksana.

Justru dengan kesalahan tersebut, kita mendapat feedback yang memungkinkan kita mengetahui dalam hal apa siswa masih mengalami kesulitan didalam memahami materi yang diajarkan. Dalam proses pembelajaran khususnya Bahasa Inggris, ada dua istilah untuk membedakan kesalahan yang dilakukan siswa yaitu ‘mistake’ dan ‘error’ (Brown, 2000).

‘Mistake’ mengacu kepada kesalahan siswa yang didasarkan pada dugaan yang salah atau kegagalan untuk menggunakan sistem tertentu yang sudah dikenal. Ini berarti siswa sebenarnya sudah mengenali, mengetahui dan memahami pola tertentu dalam menggunakan bahasa yang akan digunakan. Akan tetapi karena faktor ‘slip of the tounge’(kesalahan pengucapan), tata bahasa yang tidak teratur, kesalahan dalam mengingat, atau bahkan faktor-faktor fisik seperti kelelahan dan emosi yang tak terkendali.

Sedangkan ‘Eror’ mengacu kepada kesalahan siswa dalam hal pemahaman. Jadi, kesalahan yang tampak disini adalah bukan karena siswa mengalami faktor-faktor teknis seperti ‘slip of the tongue’ tetapi kesalahan yang nampak disini adalah kesalahan yang menggambarkan bahwa siswa belum mengenali, mengetahui, dan memahami pola bahasa yang digunakan.

Penting untuk mengetahui perbedaan antara mistake dan eror karena kesalahan yang dilakukan didasarkan pada dua kondisi yang berbeda. Mistake terjadi karena ‘eror in performance’ dan Eror terjadi karena ‘eror in competence’. Untuk membedakanya cara yang dilakukan adalah dengan mengecek kembali kesalahan tersebut kepada siswa yang bersangkutan. Jika dia mampu mengenali dan mengoreksi kesalahan yang dibuat, ini menunjukkan bahwa kesalahan yang dibuat adalah ‘eror in performance’ yang berarti kesalahannya adalah mistake.

Sedangkan apabila siswa tidak bisa mengenali dan mengoreksi kesalahan yang dibuat berarti kesalahannya adalah sebuah ‘eror in competence’ yang berarti eror. Akan tetapi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kontinuitas atau kekonsistenan kesalahan siswa yang tampak dalam setiap produksi bahasanya. Setelah dicek kontinuitasnya, maka baru dilakukan kroscek kepada siswa atas kesalahanya tersebut.

Pembahasan mengenai cara mengatasi atau ‘memanfaatkan’ kesalahan siswa dalam proses belajar akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

By: Kurnia Nur Ainy

Brown, H.D. (2000). Principles of Language Learning and Teaching. New York: Pearson Education.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s