catatan kecil

Sabtu 29 Januari 2011 01.00 a.m.

Sepenggal kisah

“Ketika hati sempit dan gundah, sejenak pejamkanlah mata dan tarik nafas dalam-dalam. Ucapkan istighfar, astaghfirullahaladziiimmmm dengan tulus dari dalam hati”

Tips dari suami yang diberikanya ketika istrinya mengeluh tentang kegelisahan hati yang tak kunjung usai. Dalam banyak hal kemudian sang istri menyadari kelemahan dan kerapuhannya dalam menghadapi ujian hidup. Tetapi justru disitulah mereka saling mengisi dan menguatkan. Satu sisi yang lemah dikuatkan oleh sisi lain yang kuat. Demikian juga sebaliknya.  Rumah tangga seperti sebuah bangunan.

Dengan istighfar Yang Maha Lembut dan Maha Segala akan menyadarkan sudut pandang yang tertutup. Melengkapi sudut pandang yang sudah ada sehingga nampaklah kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan. Bahwa yang terpenting adalah bukan apa yang harus didapat pada akhirnya tetapi apa yang sudah bisa didapat selama dalam proses yang sudah dijalani. Meskipun tak dapat dipungkiri, hasil akhir yang baik tak luput dari proses yang tertata pula.

Perkayalah sudut pandang, itu yang bisa si istri simpulkan. “Ingatlah masih ada Allah disana…dan kita tak perlu khawatir sedikitpun karena kita masih punya Allah…” sang suami kembali menimpali. Masa depan adalah misteri. Yang kemudian menjelma menjadi sebuah tantangan… sejauh apa yang bisa dilakukan untuk mencetak dan mengubah masa depan. Doa dan ikhtiar dan akhirnya tawakkal.

Dengan menyebut asma Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s